Martha Khristina Tiahahu, Setegar Karang dan Bersemayam Bersama Karang

Assalamualaikum wr. wb
Salam sejahtera untuk kita semua :)

"Bangsa Yang Besar Adalah Bangsa Yang Dapat Menghargai Jasa Para Pahlawannya" (Bung Karno)

Terimakasih untuk wasiat indah yang mengetuk hati itu Pak.

Pahlawan, semua orang bisa menjadi pahlawan. Entah untuk diri sendiri, orang terkasih, keluarga tercinta, atau bahkan orang yang tidak dikenal. Ya, maka dari itu, semua orang bisa jadi pahlawan. Tergantung kita mendefinisikan pahlawan itu seperti apa.

Pahlawan yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, yang konon katanya sekarang adalah Tanah Air "tercinta" kita. Sungguh ?? Ya, semua orang berhak mencintai tanah airnya dengan cara yang berbeda, bahkan dengan cara yang tersirat atau terlalu tersirat sehingga banyak orang yang meragukan wujud kecintaannya.

Baiklah, kembali lagi pada tujuan awal saya, mengenalkan salah satu sosok pahlawan cantik yang berbakti pada ayahandanya dan tanah air tercintanya.

Martha Khristina Tiahahu
(±1800 - 1818)



Martha Khristina Tiahahu masih sangat belia kala memperjuangkan kemerdekaan. Dia merupakan putri dari Raja Paulus Tiahahu yang saat itu menjadi kapitan pasukan Nusalaut. Sebelum ditunjuk menjadi kapiten, Raja Paulus Tiahahu merupakan Raja Abubu dulunya. Mengingat bahwa Martha yang merupakan putri raja ini turut merasakan penderitaan rakyatnya. Dia tidak tega melihat kondisi rakyat yang tertindas karena ulah penjajah Belanda. 

Perjuangan Martha Khristina Tiahahu berbuah manis kala ia dan sang ayah mampu merebut Benteng Duurstede pada tanggal 17 Mei 1817. Benteng milik Belanda itu telah dikuasai dengan perjuangan yang tidak mudah, disusul dengan benteng milik belanda selanjutnya, yaitu Benteng Beverdjik. Paukan Belanda yang berada di kedua benteng tersebut dibinasakan seluruhnya. Belanda tidak tinggal diam, melakukan perlawanan juga berupa mengerahkan kapal Zwaluw untuk merebut benteng Beverdjik namun tidak berhasil. Imbauan Laksamana Muda Buyskes, lewat surat yang dibacakan oleh dua orang Raja Maluku tidak berhasil mempengaruhi semangat rakyat yang berkobar untuk memperjuangkan haknya yaitu Kemerdekaan mutlak.

Saat kabar perang yang mengudara mulai menghantui rakyat yang berjuang ada seorang gadis dengan rambut panjang berikat kain merah tetap setia berdiri disamping ayahnya untuk memberi semangat kepada yang lain agar tidak gentar melawan Belanda yang berusaha kembali menyerang. Dia adalah Martha Khristina Tiahahu.

Seperti yang sudah-sudah cara yang digunakan Belanda untuk menghancurkan kekuatan yang kuat adalah dengan tipu muslihat. Belanda mengguanakan seorang guru yang bernama Sosalisa. Ia memasuki benteng dengan mengatasnamakan semua Raja Nusalaut, ia menyatakan bahwa para raja telah sepakat untuk berdamai dengan Belanda. Pada tanggal 10 November 1817 Belanda dapat memasuki benteng karena tipu muslihat yang digunakan Sosalisa berhasil. Belanda kemudian melakukan penangkapan-penangkapan, Kapitan Paulus dan putrinya telah ditangkap juga. Kapitan Paulus dijatuhi hukuman mati. Beliau dipenggal kepalanya dan tubuhnya dihujami peluru sampai meninggal.

Setelah sang ayah telah dijatuhi hukuman mati, Martha Khristina Tiahahu diserahkan dalam asuhan guru Sosalisa setelah dibebaskan dari tahanan di Benteng Duurstede. Tanpa meneteskan air mata Martha melangkah keluar. Martha tidak sudi tinggal di rumah penghianat seperti guru Sosalisa. Martha berniat tinggal di dalam hutan dan mengumpulkan kembali pasukan sang ayah yang masih tersisa, namun sebulum niat itu terwujud ia telah tertangkap. Belanda menjatuhkan hukuman pembuangan dan kerja paksa di perkebunan kopi di Jawa. Saat perjalanan di dalam kapal Martha memilih diam dan tidak mau makan atau minum. Martha pun jatuh sakit, namun tetap tidak ingin minum obat yang diberikan. Kondinya semakin hari semakin melemah, hingga pada tanggal 1 Januari menjelang tanggal 2 tahun 1818, Martha Khristina Tiahahu telah wafat. Tubuh gadis muda itu dikubur dengan cara dibuang ke laut antara Pulau Buru dan Pulau Tiga.

Sungguh gadis muda yang pemberani, berani menanggung segala resiko yang ditimbulkan dari pilihannya. Beliau memilih untuk memperjuangkan haknya dan hak rakyatnya. walaupun dengan pilihan itu dia harus bersiap kehilangan harta, waktu berharga, ayahnya bahkan nyawanya sendiri. Menurut Martha kemerdekaan merupakan hak bagi semua orang. Ia memiliki pendirian yang teguh dan tidak pantang menyerah.

Pada masa sekarang berjuang tidak harus dengan senjata atau bahkan membalas negara Belanda. Berjuanglah dengan cara kalian masing-masing. Bayangkan jika dulu tidak ada orang seperti semuah pahlawan yang memeperjuangkan Tanah Air ini, mungkin saat ini kita tidak akan dapat menggunakan gandet yang sekarang ada di genggaman kalian. Jangan hanya mengingat para pahlawan saat mendekati peringatan hari kemerdekaannya saja atau saat mendapatkan tugas dari sekolah atau kampus kalian. Sungguh kita beruntung memiliki mereka semua.

Semoga semua pahlawan yang memperjuangkan kebahagiaan untuk kita saat ini mendapatkan tempat yang baik disana. Semoga perjuangan mereka tidak sia-sia.

Mari kita doakan semua pahlawan kita yang baik dan keren. Berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa Mulai *pray

Tetap semangat untuk berkarya, kalian bisa karena  kalian percaya. Semangaat

Jangan lupa jaga kesehatan dan buang sampah pada tempatnya ...

Terimakasih :*

Sumber : Jejak-Jejak PAHLAWAN, karya Y.B Sudarmanto, penerbit  PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1996

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Salam Pembuka Dee